Senin, 23 Januari 2017

10:23

Mari kita lihat sejauh mana manusia masih dapat bersyukur ketika kesenangan datang menghapus kesedihan dan ketika kesedihan yang tak lama bersemayam.

Minggu, 22 Januari 2017

12:05

Malam ini bayangmu masih tergambar jelas dipikiranku. Sebuah senyum yang indah terlukis diwajahmu. Seperti ingin memilikimu. Keegoisanku pun datang tanpa sengaja lalu menggoreskan luka sebagai peringatan. Bagaimana lagi aku harus menggambarkan kecerianku ini. Dalam mobil yang kau kemudi, ku lirik sesekali dari balik jok mu. Seperti seorang anak kecil yang ingin diberi es, penuh semangat kemenangan. Namun lamunanku untuk memilikimu terbuyarkan ketika seorang teman menanyakan kelanjutan hubungan dia yang ku incar dengan gadis yang memilikinya. Seperti sebuah mimpi yang ku harap aku takkan terbangun. Anganku hilang. Dalam sadar aku mulai mengakui bahwa menyukai seseorang bukan berarti kita harus memilikinya karena mungkin saja dia sudah ada yang memiliki atau mungkin saja dia bukan yang terbaik untuk kita. Berharap pun boleh saja asal kita dapat mengendalikan emosi dalam pikiran dan tindakan.

Tak harus memiliki, memandangmu dari kejauhan maupun dari jarak yang sangat dekat sudah membuatku tersipu seakan kau menyapaku dengan lembut. Angan selalu ada, angan takbisa disalahkan. Sama hal nya dengan cinta yang tumbuh seiring waktu, takbisa disalahkan.

- WN

Kamis, 12 Januari 2017

22.15

"Komitmen" satu kata yang membuat aku berfikir sampai saat ini. Dia bilang kalau kita berkomitmen maka seberapa lama waktu berjalan kita pasti bisa untuk menunggu. Lalu apa pengertian komitmen seperti ini? Apa maksud kata komitmen itu seperti ini? Menunggu? Dalam jangka waktu lama? Jika memang iya, aku akan sangat merasa menyesal karna telah mendengarkan pernyataan itu.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk menghindari yang namanya kegalauan. Dari cara berfikir, dari bacaan-bacaan yang mengundang ingatan lama, dan dari perkataan-perkataan yang mengukir kesedihan. Seberapa keras aku mencoba selalu saja semua berujung kegagalan.

Aku gagal dalam banyak hal. Aku gagal menahan emosiku, menahan amarahku, menahan keegoisanku dan pada akhirnya aku telah gagal menahanmu tetap disisi. Aku menyuruhmu pergi. Aku menyesal. Aku hanya ingin melihat apa arti diriku disisimu? Pentingkah? atau sama sekali gak penting? Tapi kenyataan yang ku dapat lebih pahit dari dugaanku. Lebih menyakitkan dari kata "gak penting"

Aah, berawal dari perkataan tentang komitmen itu rasa sedihku kembali. Ingatan burukku terputar. Dan kenangan yang mungkin indah datang kembali, dalam khayal.

- WN

Rabu, 11 Januari 2017

aku pergi ya?

Meninggalkan?
Rasanya memang perlu untuk saat ini.

Berjalan atau berlari?
Sama saja yang pasti hanya tak ingin untuk sekedar menoleh lagi.

Mau kemana memangnya?
Kemana saja asalkan tak bisa dicari apalagi ditemukan.

Sudah se-menyerah itu?
Bukan menyerah, tapi kesempatannya sudah habis.

Sudah memberikan kesempatan?
Sudah, tapi mungkin dia tak sadar.

Bagaimana bisa sadar bila kamu saja tak memperlihatkan apa-apa?
Bukankah dengan aku selalu ada di saat dia butuhkan itu sudah lebih dari cukup?

Kamu balik bertanya? Itu tandanya belum cukup yakin untuk pergi, kan?
Yakin. Aku sudah terluka lagi. Sudah terseok lagi ditikam harapan seorang diri.

Sungguh? Dia tak pernah memberikanmu harapan bukannya?
Ah baiklah. Aku malas diberi pertanyaan atau sekedar bertanya. Aku pergi, ya?

30 Januari 2016

Sungguh aku tak ingin menyakiti hati siapapun.
Sungguh aku hanya ingin menghibur setiap jiwa yang sepi.
Sungguh aku tak bermaksud menjadi alasan disetiap senyum yang ada.
Bahkan sungguh aku tak ingin menjadi alasan disetiap kesedihan yang tersirat
Air matapun aku tak ingin ada!

Kesunyian yang mendalam membuatku bertekad agar setiap orang yang berada didekatku tidak sama sekali ikut merasakan sedihku.
Hanya senyuman yang inginku lihat dari mereka yang mendekat.
Bahkan ku tau, semua yang mendekat mempunyai maksud dan tujuan tertentu
Tapi bisa apa aku? Menolak agar mereka tidak mendekat?
Tidak mungkin.

Yang bisa ku lakukan hanya mengingatkan setiap insan yang menaruh rasa.
Mengingatkan bahwa aku hanya sekadar menghibur setiap jiwa yang sepi dengan senyuman, bahkan candaan.

Disini, aku hanya bertahan pada apa yang sudah ku putuskan.
Bertahan untuk dia yang ku sayang. Dan hanya dia. Tidak ada yang lain. Walaupun dalam kenyataannya dia yang ku sayang telah pergi meninggalkanku dengan rasa tak bersalah.
Meninggalkan hati yang patah. Sakit? Tentu. Tapi aku terus percaya bahwa kamulah yang terbaik. Semua akan membaik sepanjang waktu berjalan. 

Kau adalah alasan dimana aku dapat bertahan dalam luka.
Sederhana namun aku menyayangimu.
Tak ada yang lain. Beribu lawan jenis mendekat lalu mengungkapkan. Dilema ku datang. Tapi aku yakin satu hal, semua akan membaik, kau akan kembali.

- WN (winnanormala.tumblr.com)